Pengabdi Setan (2017) Review

Sebenarnya saya bukan penggemar film lokal, bukan karena tidak cinta tanah air, tapi lebih kearah selera, seperti ada orang suka musik pop, ada yang suka musik rock, ada penikmat seni abstrak, ada yang lebih memilih seni realis, jadi sama sekali tidak ada hubungannya dengan rasa nasionalisme.

Terakhir kali nonton film lokal itu mungkin tahun 2016 Ruddy Habbibie, while I’m not really a fan of him, so yeah, it’s a well-made cinematography, based on quite-interesting real events, is just I don’t fancy him. Tapi sudahlah, bukan Habibie yang akan saya bahas, tapi film horor klasik berlatar tahun ‘80an rilisan 2017 berjudul Pengabdi Setan.

Saat melihat latar film ini saya teringat film-film almh. Suzanna, berlatar di sebuah rumah yang nggak kuno-kuno amat di zaman itu, piringan hitam, motornya Toni, seragam kegedean(?) Toni, kompor minyak yang nyalainnya masih pake biting, radio jadul dengan lagunya yang ala ala tembang kenangan, kelambu putih creepy di kamar ibu, juga toples beling(?)nya nenek, yang nenek gue juga masih punya, totalitas klasiknya perlu diacungi jempol.

Karakter yang paling saya sukai adalah karakter si Ian. Dari sebuah adegan dua kakak beradik Bondi dengan Ian sedang bermain bersama, kita jadi tahu kalau Ian itu bisu, pononton jadi dibuat iba, kita jadi seakan, how could you hurt such adorable yet disabled kid? While you know his life is about to fucked up.

Tokoh yang paling dikasihani, tidak dicurigai, dan dianggap innocent adalah Ian, dan siapa yang menyangka pada akhirnya Ian ternyata adalah titisan iblis hanya berlandaskan referensi sebuah artikel di majalah klenik (yang sudah direfisi). Plot twistnya jadi bikin saya “Eh?” Padahal twist itu bisa berpotensi menjadi lebih berbobot, kalau diungkap dari sumber lain, kisah flashback si bapak misal, bukan dari artikel yang malah membuat itu jadi terkesan konyol. Dan juga bagaimana dengan nasib Ian yang ditinggalkan begitu saja saat Pocong apocalypse menyerang?

Karakter yang paling saya sayangkan adalah Rini, kakak tertua mereka yang tidak peka atau pura-pura tidak peka.. entahlah, Rini jelas-jelas mengabaikan kode kode klenik, padahal dia sendiri juga mengalaminya beberapa kali (yang biasanya berupa mimpi), dan dari tokoh Hendra juga, Rini masih saja ngeyel, jatuhnya dia jadi terkesan denial, tipikal tokoh yang ada di setiap film horor. Mungkin kalau saya ada dalam posisi Rini, saya juga akan bertingkah demikian, apalagi setelah bapak mereka pergi ke luar kota, Rini bertanggung jawab penuh atas adik-adiknya dan juga nenek (sebelum akhirnya nenek meninggal), jadi Rini menolak menanggapi sebuah permasalahan yang tidak bisa dia pahami, mengatur keungan keluarga yang sedang seret sekaligus mengurusi adik-adiknya saja mungkin sudah melelahkan, ditambah dia sedang berduka atas kepergian sang ibu, such a burdden kan, dimaklumi?

Karakter yang paling punya banyak informasi justru adalah si bapak, Rini datangya malah ke Pak Ustadz yang tidak tahu menahu background keluarganya, dan tokoh Ustadz disini dibikin cemen(?), malah si Hendra cenderung lebih helpful, justru dari si Hendra, Rini jadi tahu kalau ada makhluk yang lebih kuat dari jin maupun setan, dan makhluk itu sudah ada sejak sebelum agama muncul, itu menurut saya adalah sebuah informasi kunci, tapi kenapa malah datangnya dari mulut Hendra? Pak Ustadznya hanya menyuruh Rini ibadah, sekali ibadah Rini diganggu sampai ketakutan setengah mati, saya jamin Rini jadi kapok beribadah lagi. Dan Ustadz matinya juga tidak keren dan agak kurang heroic, masih lebih keren Hendra yang mati saat akan menyampaikan surat dari Budiman, ya sudahlah kalau Ustadznya jagoan nanti malah jadi film religi bukan film horor.

Menurut saya, tokoh bapak seperti masih menyembunyikan sesuatu, selain itu karakter bapak disini cenderung useless (kecuali saat adegan nyemplung sumur), saya punya feeling banyak sekali informasi yang bisa Rini ekstrak dari bapaknya sendiri sebelum dia mendatangi Pak Ustadz atau bahkan Budiman. Entah kenapa Rini tidak berinisiatif dari sejak ibunya meninggal, padahal sudah jelas ibunya sakit dan meninggal secara misterius. Benar memang Rini tidak percaya hal-hal ghaib, tapikan hanya karena kamu tidak percaya sesuatu, bukan berarti itu tidak ada.

Keluarga mereka sebenarnya helpless, keputusan pindah rumah sepertinya juga tidak akan merubah apapun (kecuali kondisi keuangan mereka), soalnya bukan rumahnya yang berhantu, tapi keluarga tersebut yang sudah sejak awal terikat perjanjian dengan setan, dan juga setelah pindah rumah keluarga itu masih melanjutkan gaya hidup mereka seperti dulu, tidak ada indikasi kalau mereka beribadah terutama tokoh Rini yang datar-datar saja dari awal cerita sampai akhir. Ditambah kemunculan pasangan yang diduga pemimpin sekte sesat berkedok tetangga dermawan juga menambah kecurigaan saya tentang Budiman, kenapa Budiman membawa keluarga itu tinggal di rusun yang sama dengan pasangan harvester itu? Intinya walaupun tanpa teror hantu-hantu seperti sebelumnya, di akhir cerita kita bisa menyimpulkan kalau keluarga tersebut sebenarnya masih fucked up, masih dalam bahaya.

Kelebihan :

 Banyak adegan jumpscarenya, (paling ngeri adalah adegan ibu yang minta disisirin Toni)

 Setting klasik yang nggak setengah setengah.
 Punya pesan moral tersirat, (Orang yang rajin beribadah tapi jika tidak diikuti perilaku yang baik, tetap saja percuma. Contoh, Pak Ustadz yang mati sia sia)
 Akting tokoh Ian yang pantas diacungi jempol.
 Termasuk film horor berkualitas dalam taraf film lokal.

Kekurangan :

 Back story yang kurang banyak diungkap. (Mekanisme sekte sesat, masa lalu ibu sampai membuat dia terjerumus masuk kesana, peran nenek kenapa sampai tidak menyukai menantunya, apa mungkin bapak tahu kalau keempat anaknya bukan darah dagingya sendiri, motivasi Hendra kembali ke kuburan malam setelah tokoh ibu meninggal, bagaimana Budiman bisa tahu kalau tokoh ibu menjadi pengikut sekte sesat, dan siapa sebenarnya Budiman, seorang jurnalis, dukun, atau mungkin juga diam-diam adalah pengikut sekte itu…)
 Banyak plot hole, bukan plot hole sih, tapi lebih seperti unexplainable plot. Misal kenapa Ian tiba-tiba bisa bicara? Kenapa Bondi (yang dirasuki nenek) tidak jadi membunuh Ian setiap kali punya kesempatan, bahkan melukaipun tidak (kesurupannya kan jadi terkesan tidak berguna) padahal scene ini yang paling saya tunggu-tunggu. Lalu apa yang sebenarnya Budiman katakan pada Hendra? Dan siapa yang menggedor pintu rumah Budiman sampai-samai dia ketakutan seperti itu?
 Kemunculan tokoh yang dirasa tidak perlu, karena mereka pada dasarnya tidak mempengaruhi apapun. (Tokoh Pak Ustadz yang kurang kompeten)
 Tokoh utama yang tidak berkembang. (Rini)
 Akting kaku pemain Bondi dan Rini.
 Adegan yang tidak make sense. (Saat Rini dan Toni mengangkat Bapak dan Ian dari sumur, menggunakan timba air, kan itu berat banget, dua orang nggak mungkin kuat.)
 Penggambaran tokoh bapak yang terlalu danddy, gaya rambut bapak yang lebih keren dari om om jaman sekarang, sementara Hendra yang tergolong remaja dewasa malah berpenampilan seperti bapak-bapak.
Rating : 7/10

Iklan

Pengabdi Setan (2017) Review

Sebenarnya saya bukan penggemar film lokal, bukan karena tidak cinta tanah air, tapi lebih kearah selera, seperti ada orang suka musik pop, ada yang suka musik rock, ada penikmat seni abstrak, ada yang lebih memilih seni realis, jadi sama sekali tidak ada hubungannya dengan rasa nasionalisme.

Terakhir kali nonton film lokal itu mungkin tahun 2016 Ruddy Habbibie, while I’m not really a fan of him, so yeah, it’s a well-made cinematography, based on quite-interesting real events, is just I don’t fancy him. Tapi sudahlah, bukan Habibie yang akan saya bahas, tapi film horor klasik berlatar tahun ‘80an rilisan 2017 berjudul Pengabdi Setan.

Saat melihat latar film ini saya teringat film-film almh. Suzanna, berlatar di sebuah rumah yang nggak kuno-kuno amat di zaman itu, piringan hitam, motornya Toni, seragam kegedean(?) Toni, kompor minyak yang nyalainnya masih pake biting, radio jadul dengan lagunya yang ala ala tembang kenangan, kelambu putih creepy di kamar ibu, juga toples beling(?)nya nenek, yang nenek gue juga masih punya, totalitas klasiknya perlu diacungi jempol.

Karakter yang paling saya sukai adalah karakter si Ian. Dari sebuah adegan dua kakak beradik Bondi dengan Ian sedang bermain bersama, kita jadi tahu kalau Ian itu bisu, pononton jadi dibuat iba, kita jadi seakan, how could you hurt such adorable yet disabled kid? While you know his life is about to fucked up.

Tokoh yang paling dikasihani, tidak dicurigai, dan dianggap innocent adalah Ian, dan siapa yang menyangka pada akhirnya Ian ternyata adalah titisan iblis hanya berlandaskan referensi sebuah artikel di majalah klenik (yang sudah direfisi). Plot twistnya jadi bikin saya “Eh?” Padahal twist itu bisa berpotensi menjadi lebih berbobot, kalau diungkap dari sumber lain, kisah flashback si bapak misal, bukan dari artikel yang malah membuat itu jadi terkesan konyol. Dan juga bagaimana dengan nasib Ian yang ditinggalkan begitu saja saat Pocong apocalypse menyerang?

Karakter yang paling saya sayangkan adalah Rini, kakak tertua mereka yang tidak peka atau pura-pura tidak peka.. entahlah, Rini jelas-jelas mengabaikan kode kode klenik, padahal dia sendiri juga mengalaminya beberapa kali (yang biasanya berupa mimpi), dan dari tokoh Hendra juga, Rini masih saja ngeyel, jatuhnya dia jadi terkesan denial, tipikal tokoh yang ada di setiap film horor. Mungkin kalau saya ada dalam posisi Rini, saya juga akan bertingkah demikian, apalagi setelah bapak mereka pergi ke luar kota, Rini bertanggung jawab penuh atas adik-adiknya dan juga nenek (sebelum akhirnya nenek meninggal), jadi Rini menolak menanggapi sebuah permasalahan yang tidak bisa dia pahami, mengatur keungan keluarga yang sedang seret sekaligus mengurusi adik-adiknya saja mungkin sudah melelahkan, ditambah dia sedang berduka atas kepergian sang ibu, such a burdden kan, dimaklumi?

Karakter yang paling punya banyak informasi justru adalah si bapak, Rini datangya malah ke Pak Ustadz yang tidak tahu menahu background keluarganya, dan tokoh Ustadz disini dibikin cemen(?), malah si Hendra cenderung lebih helpful, justru dari si Hendra, Rini jadi tahu kalau ada makhluk yang lebih kuat dari jin maupun setan, dan makhluk itu sudah ada sejak sebelum agama muncul, itu menurut saya adalah sebuah informasi kunci, tapi kenapa malah datangnya dari mulut Hendra? Pak Ustadznya hanya menyuruh Rini ibadah, sekali ibadah Rini diganggu sampai ketakutan setengah mati, saya jamin Rini jadi kapok beribadah lagi. Dan Ustadz matinya juga tidak keren dan agak kurang heroic, masih lebih keren Hendra yang mati saat akan menyampaikan surat dari Budiman, ya sudahlah kalau Ustadznya jagoan nanti malah jadi film religi bukan film horor.

Menurut saya, tokoh bapak seperti masih menyembunyikan sesuatu, selain itu karakter bapak disini cenderung useless (kecuali saat adegan nyemplung sumur), saya punya feeling banyak sekali informasi yang bisa Rini ekstrak dari bapaknya sendiri sebelum dia mendatangi Pak Ustadz atau bahkan Budiman. Entah kenapa Rini tidak berinisiatif dari sejak ibunya meninggal, padahal sudah jelas ibunya sakit dan meninggal secara misterius. Benar memang Rini tidak percaya hal-hal ghaib, tapikan hanya karena kamu tidak percaya sesuatu, bukan berarti itu tidak ada.

Keluarga mereka sebenarnya helpless, keputusan pindah rumah sepertinya juga tidak akan merubah apapun (kecuali kondisi keuangan mereka), soalnya bukan rumahnya yang berhantu, tapi keluarga tersebut yang sudah sejak awal terikat perjanjian dengan setan, dan juga setelah pindah rumah keluarga itu masih melanjutkan gaya hidup mereka seperti dulu, tidak ada indikasi kalau mereka beribadah terutama tokoh Rini yang datar-datar saja dari awal cerita sampai akhir. Ditambah kemunculan pasangan yang diduga pemimpin sekte sesat berkedok tetangga dermawan juga menambah kecurigaan saya tentang Budiman, kenapa Budiman membawa keluarga itu tinggal di rusun yang sama dengan pasangan harvester itu? Intinya walaupun tanpa teror hantu-hantu seperti sebelumnya, di akhir cerita kita bisa menyimpulkan kalau keluarga tersebut sebenarnya masih fucked up, masih dalam bahaya.

Kelebihan :

 Banyak adegan jumpscarenya, (paling ngeri adalah adegan ibu yang minta disisirin Toni)

 Setting klasik yang nggak setengah setengah.
 Punya pesan moral tersirat, (Orang yang rajin beribadah tapi jika tidak diikuti perilaku yang baik, tetap saja percuma. Contoh, Pak Ustadz yang mati sia sia)
 Akting tokoh Ian yang pantas diacungi jempol.
 Termasuk film horor berkualitas dalam taraf film lokal.

Kekurangan :

 Back story yang kurang banyak diungkap. (Mekanisme sekte sesat, masa lalu ibu sampai membuat dia terjerumus masuk kesana, peran nenek kenapa sampai tidak menyukai menantunya, apa mungkin bapak tahu kalau keempat anaknya bukan darah dagingya sendiri, motivasi Hendra kembali ke kuburan malam setelah tokoh ibu meninggal, bagaimana Budiman bisa tahu kalau tokoh ibu menjadi pengikut sekte sesat, dan siapa sebenarnya Budiman, seorang jurnalis, dukun, atau mungkin juga diam-diam adalah pengikut sekte itu…)
 Banyak plot hole, bukan plot hole sih, tapi lebih seperti unexplainable plot. Misal kenapa Ian tiba-tiba bisa bicara? Kenapa Bondi (yang dirasuki nenek) tidak jadi membunuh Ian setiap kali punya kesempatan, bahkan melukaipun tidak (kesurupannya kan jadi terkesan tidak berguna) padahal scene ini yang paling saya tunggu-tunggu. Lalu apa yang sebenarnya Budiman katakan pada Hendra? Dan siapa yang menggedor pintu rumah Budiman sampai-samai dia ketakutan seperti itu?
 Kemunculan tokoh yang dirasa tidak perlu, karena mereka pada dasarnya tidak mempengaruhi apapun. (Tokoh Pak Ustadz yang kurang kompeten)
 Tokoh utama yang tidak berkembang. (Rini)
 Akting kaku pemain Bondi dan Rini.
 Adegan yang tidak make sense. (Saat Rini dan Toni mengangkat Bapak dan Ian dari sumur, menggunakan timba air, kan itu berat banget, dua orang nggak mungkin kuat.)
 Penggambaran tokoh bapak yang terlalu danddy, gaya rambut bapak yang lebih keren dari om om jaman sekarang, sementara Hendra yang tergolong remaja dewasa malah berpenampilan seperti bapak-bapak.
Rating : 7/10

Jangan Pernah Katakan Hal Ini Pada Mereka Yang Sedang Depresi

 

a11a26456acdb53ffa7e632300ae7d79

Orang-orang sudah menjadi buta sehingga kebenaran justru dianggap sebagai sesuatu yang mengganggu mereka.

Depresi itu monster yang tinggal di kepala seseorang, tidak berwujud tapi keberadaannya nyata. Orang yang mengidap depresi cenderung menjadi seribu kali lebih sensitif dari diri mereka yang biasannya, perkataan melenceng sedikit bisa menjadi batu besar dalam benak mereka, nasihat mulai terdengar seperti tekanan, itulah kenapa orang depresi tidak akan mempan dinasihati panjang lebar, karena yang mereka butuhkan mungkin adalah pengertian dan sebuah kalimat ‘Aku paham, aku mengerti.’. Tapi ada sebagian orang yang tidak berpengalaman dengan makhluk bernama ‘depresi’ itu, untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, bagi kalian yang masuk kategori awam, tolong simak hal-hal yang tidak boleh kalian katakan pada pengidap depresi dibawah ini.

Baca lebih lanjut