Another Side of The World

Terkadang matahari bersinar terang, namun sesuatu dalam dirimu mengubahnya menjadi terlihat mendung. Mungkin hari itu hujan lebat, diselimuti mendung, gelap, abu-abu, siapa tahu, mungkin saja saat itu matahari malah sedang berpindah menerangi hatimu, menghangatkannya, memberi kehidupan, semua terlihat indah dan terang.

Apa kau yakin.. benarkah semua itu interupsi dari luar? atau dari dirimu sendiri.. menyalahkan alam tak akan ada gunanya… sakit ya sakit.. tidak ada hubungannya dengan cuaca mendung atau cerah,¬† dan rasa sakit tak akan pernah bisa dilihat.. diukur, seperti …¬†seberapa sakitkah menjadi orang yang selalu dipojokkan? Kau mana tahu.

Ada yang mencoba terlihat seperti pagi yang cerah, tapi awan mendung mengitari kepalanya.. terus menerus.. dia melihat dunia begitu indah.. tapi kenapa seperti tak ada alasan untuk dia tersenyum. Ia merasa sulit mendeskripsikan hal itu, bukan sulit.. tapi percuma.

Kau tahu, selalu ada sisi lain dunia ini yang membuatmu membenci hidup.

Jalanmu Bukan Jalanku

image

Berbeda itu sulit, kalau dianalogikan, berbeda itu seperti menjauh dari kerumunan dan memilih berjalan sendiri di tempat asing nan sepi tanpa siapapun.
Kadang takut kalau ada sesuatu terjadi, mau minta tolong tapi tak ada seorangpun disana, tapi enaknya kalau mendapat berkah kau tak perlu membagi dengan kolonimu, karena hanya ada kau disana.

Orang yang seperti itu, orang yang sukanya berbeda itu selalu punya esensi, dia selalu menjawab pertanyaan 5W 1H dengan mantap dan sempurna.
Dia tidak mau hanya mengikuti sesuatu karena sesuatu itu banyak diikuti, dia selalu punya penjelasan setebal kamus untuk menjabarkan apa maunya.

Hidup itu sendiri-sendiri jadi tidak usah dipaksakan sama dengan orang lain, karena apa? Ya percuma lah.. Ikan napas di air, terus gajah ikut-ikutan. Bisa sekarat nanti! Lho kan mereka hewan? Lho yang dilihat jangan spesiesnya.. Tapi kebutuhannya,  manusia dilihat fisik sekilas sama, tapi kebutuhannya beda.

“Semut tertentu tidak pasti muat memasuki lubang yang telah dibuat koloni sebelumnya, terkadang mereka hanya perlu membuat lubangnya sendiri untuk bertahan hidup.”

Well ~ thats my chessy phrase

Dua Partikel Penting Yang Dimiliki Manusia

Dia adalah hal baru bagiku, hal baru dengan keyakinan baru, yang mestinya ada yang harus aku cari tahu, dan kususun lapis demi lapis demi membentuk serentetan hal yang nantinya akan kumasukan dalam kamus kepribadian milikku. Sejauh ini, begitu caraku mengenal seseorang.

Logika menunjukan ketidak pedulian angkuh, berlawanan dengan hati kecil muram yang sudah sering aku kotori dengan perihal duniawi, memang sekilas tidak ada untungnya mempelajari ‘isi hati manusia’.

Lalu haruskah aku mempelajari isi otak manusia? Isi otak yang dipenuhi ambisi mengerikan?
Kau tahu? ambisi sudah seperti sebuah keharusan,
aku harus ini,
aku harus itu,
semua diperbudak ambisi. .nurani jadi tipis, berani menghalalkan yang tidak halal demi sebuah pencapaian semu,
ambisi juga membuat kita yakin bahwa apapun itu. .  tidak sulit mendapatkan apa yang kita mau. .
semua bisa menjadi sesederhana satu tambah satu sama dengan dua. .
tapi hidup tidak sesederhana itu, prinsip hidup sederhana ala Mamaku saja tidak sesederhana itu!

Berperikemanusiaan saja datangnya dari hati, bukan dari pikiran. Ketuhanan yang maha Esa juga dari hati. Tapi jangan lupa tiga sila yang lain datangnya dari pikiran.

Satu-satunya waktu yang tepat untuk bermain logika adalah ketika kau akan jatuh tersungkur, logika mengangkatmu berdiri, karena hati bisa menyeretmu masuk kedalam lubang hitam mengerikan berisi mimpi buruk, keraguan, kegelisahan, dan kekhawatiran yang berlebihan.
Hati bisa membawamu kedalam titik kesedihan paling dalam. Hati juga bisa membuatmu menangis untuk alasan paling konyol sekalipun!

Lucu memang. . beberapa menit yang lalu aku membela apa dan sekarang apa.

5 Alasan Kenapa Nulis Fiksi Itu Susah

1. Sulit Menjaga Pembaca Tetap Membaca

Proses pencarian idenya itu nggak sulit, tapi proses menjalankan sebuah cerita itu yang menurut gue paling sulit,
Kadang kita mengalami kebuntuan, bingung kapan dan bagaimana kita harus membawa karakter ini menuju konflik.

Kemudian masih harus menyelesaikannya tanpa boleh membuat pembaca mati bosan.

2. Menjalankan Sebuah Karakter Yang Tidak Nyata itu Sulit

Kita perlu membuat karakter itu hidup, sehidup mungkin sampai ia bisa bernapas di setiap kalimat yang kita tulis.

Apa perlu dijelaskan?

“Menulis fiksi itu seperti mengadakan sesuatu yg tidak ada tapi dituntut untuk tidak mengada-ada.”

Membangun sebuah karakter pada sebuah cerita itu akan jadi sulit jika pusat perhatian bukan berada pada jalan cerita tapi pada karakter individunya.

Seperti fiksi Edgar Allan Poe yang bercerita tentang ‘psikopat’ terfokus pada karakter tokoh utama,
ketika konflik itu terjadi dikarenakan dia yang mempengaruhi lingkungan bukan lingkungan yang mempengaruhinya.

3. Tidak Ada Yang Sesulit Mengungkapkan Emosi Dalam Bentuk Kalimat

Mengungkapkan apapun akan sangat mudah jika itu tidak dalam dunia fiksi.

Menulis juga mudah, perasaan seperti ‘sedih’ atau menulis apa yang sedang terjadi seperti ‘seseorang sedang menangis’ akan lebih mudah dari pada mengungkapkan menjadi sebait kalimat panjang seperti ini :

‘Setetes air mata hangat membasahi pipi.’

Lebih sulit lagi jika kita tidak sedang merasakan emosi tersebut. .

Ibarat makan es cendol ya,
Dia yang makan kita yang disuruh ngedeskripsiin rasanya. Kan kampret.

4. Mengingat Karakter Yang Sudah Kita Buat

Ini karakter tadinya melankolis tapi dua paragraf kemudian dia jadi hebring tralala(?)
Bukan karena Bipolar tapi karena si penulisnya aja yang lupa sama apa yang sebelumnya dia tulis.

Masa iya kita mau ngerubah sifat orang tiap ada pergantian paragraf  -_-

5. Ketika Bosan Menyerang

Memang apa yang harus kita lakukan saat benar-benar sudah muak dengan apa yang sedang kita tulis?

Nulis itu juga ngga boleh cepet bosen.
Ternyata bukan cuman pembaca, kita harus bener-bener yakin cerita ini akan membuat kita sendiri antusias sampai lembar terakhir.

Jangan memulai cerita baru karena bosan dengan yang sebelumnya, jika itu terjadi aku berani jamin karya sebelumnya tidak akan pernah berakhir.

– Deb