Terkadang Ada 

Ada masanya dimana orang paling optimis sekalipun merasa kecil setelah menyadari seberapa naifnya mereka. Ada kalanya orang yang paling sabar terlihat seperti mereka sedang bersabar, tapi sesungguhnya mereka sedang mencoba untuk tidak peduli. Ada suatu hari dimana manusia pemberani itu hanyalah seorang jelata yang rela mati, dia rela mati karena dia lelah hidup. Ada kalanya orang-orang terlupakan lebih memiliki kisah hidup yang menarik untuk diekspos ketimbang publik figur kita. Ada kalanya orang yang selalu berpendapat menyimpang itu orang normal yang sengaja berbuat begitu supaya dilihat berbeda. Adakalnya orang yang menolak itu adalah orang yang paling benci ditolak. Ada… semua itu ada dan benar-benar terjadi, di duniaku ini.

– Ara Lee




Dibalik Sebuah Perilaku

Perilaku manusia adalah bentuk refleksi dari ingatan manusia itu sendiri, potongan-potongan memori berkumpul membentuk sebuah ketakutan, kesedihan, kebahagiaan. Pada akhirnya itulah yang membantu manusia membuat keputusan, mau iya atau tidak, jalan atau duduk, marah atau menangis. Semua itu hanya manusia yang tahu, apa yang terbaik untuk mereka, hanya mereka sendiri yang tahu.

Manusia tidak sembarangan bertindak, sekalipun mereka bilang “Itu refleks”;  orang gila saja punya alasan kenapa mereka menjadi gila. Sayangnya banyak dari manusia yang tidak saling memahami satu sama lain, kenapa? Itu karena mereka punya ingatan-ingatannya sendiri, kepercayaan kepercayaan mereka sendiri, kepingan-kepingan kejadian milik mereka sendiri, tidak seharusnya manusia tertentu merasa menjadi yang paling benar.

Itu saja …

itu yang ada di benakku selama beberapa hari terakhir.

Dua Partikel Penting Yang Dimiliki Manusia

Dia adalah hal baru bagiku, hal baru dengan keyakinan baru, yang mestinya ada yang harus aku cari tahu, dan kususun lapis demi lapis demi membentuk serentetan hal yang nantinya akan kumasukan dalam kamus kepribadian milikku. Sejauh ini, begitu caraku mengenal seseorang.

Logika menunjukan ketidak pedulian angkuh, berlawanan dengan hati kecil muram yang sudah sering aku kotori dengan perihal duniawi, memang sekilas tidak ada untungnya mempelajari ‘isi hati manusia’.

Lalu haruskah aku mempelajari isi otak manusia? Isi otak yang dipenuhi ambisi mengerikan?
Kau tahu? ambisi sudah seperti sebuah keharusan,
aku harus ini,
aku harus itu,
semua diperbudak ambisi. .nurani jadi tipis, berani menghalalkan yang tidak halal demi sebuah pencapaian semu,
ambisi juga membuat kita yakin bahwa apapun itu. .  tidak sulit mendapatkan apa yang kita mau. .
semua bisa menjadi sesederhana satu tambah satu sama dengan dua. .
tapi hidup tidak sesederhana itu, prinsip hidup sederhana ala Mamaku saja tidak sesederhana itu!

Berperikemanusiaan saja datangnya dari hati, bukan dari pikiran. Ketuhanan yang maha Esa juga dari hati. Tapi jangan lupa tiga sila yang lain datangnya dari pikiran.

Satu-satunya waktu yang tepat untuk bermain logika adalah ketika kau akan jatuh tersungkur, logika mengangkatmu berdiri, karena hati bisa menyeretmu masuk kedalam lubang hitam mengerikan berisi mimpi buruk, keraguan, kegelisahan, dan kekhawatiran yang berlebihan.
Hati bisa membawamu kedalam titik kesedihan paling dalam. Hati juga bisa membuatmu menangis untuk alasan paling konyol sekalipun!

Lucu memang. . beberapa menit yang lalu aku membela apa dan sekarang apa.