Another Side of The World

Baca lebih lanjut

Iklan

You Have Plenty Of Choices

People said and pointing one another labeling one another like.. She is bad, she’s nice etc.
And suddenly something huge happened to them, society tend to blame the situation, the environment, the goverment, the places, the land, the country… she’s bad because her dad used to be a thug, her mom was a drug dealer, why? Why not conclusing that shes bad because she want it?
Some people just don’t let their environment change them, because  they got plenty of choices!

A Precious Bond

Here they aree …..

***

Kesendirian itu tidak selamanya membawa dampak buruk.

Misal saat suasana hati sedang kalut, kenapa orang cenderung ingin sendiri dan sejenak menjauh dari keramaian?

Menurut gue, disitulah titik refleksi diri akan terfokus dengan lebih jelas, dimana kita melihat siapa diri kita.

Dan sedikit demi sedikit sumber dari masalah akan terkuak.

Ternyata semua itu berasal dari dirimu sendiri.

***

Suatu ketika ada beberapa orang memasuki hidupmu.

Mereka adalah ‘Sahabat.’

Sekelompok orang yang mengajarimu hal berharga yang sekolah macam apapun tak akan pernah mengajarkan.

Kau tahu?

Siapa bilang punya sahabat = Ngga akan punya masalah?

Sementara . . .

Semakin banyak orang memasuki hidupmu, maka semakin banyak juga masalahmu.

Karena secara tidak langsung kamu peduli.

Dan selama kau masih cukup waras untuk tidak berpura-pura ‘tidak mau tahu urusan mereka’. Kamu tetap akan terbebani masalah mereka juga.

Tapi tak apa. . . . Itulah gunanya sahabat.

Asal kau tahu,

Sahabat bukan hanya orang yang menghiburmu saat kau sedih. Badutpun bisa kalau hanya menghibur.

Sahabat bukan orang yang hanya memberikanmu waktu untuk sendiri saat kau menyuruh mereka untuk.

Tapi sahabat adalah . .

Mereka yang tahu apa yang kamu butuhkan.

Belum tentu kamu butuh hiburan. Mungkin kau hanya butuh pelukan.

Karena mereka tahu kalau hiburan itu tidak selalu membuat situasi menjadi lebih baik.

Toh memang sebelum masalah itu selesai, situasi tidak akan membaik. Seperti baling-baling yang berputar pada porosnya, merasa sudah pergi sejauh apapun, tapi sebenarnya kita tidak kemana-mana. Mau kemanapun, jika masalahnya ada di dalam dirimu sendiri. . . -_-

Jelas sekali kalau hiburan itu untuk melupakan masalah, bukan untuk menyelesaikannya.

Sadarkah kalian kalau hiburan itu sama dengan pelarian?

Sahabat yang baik adalah mereka yang mengajarimu bagaimana menghadapi masalah, bukan untuk berlari dan bersembunyi darinya.

Dan suatu ketika kau melakukan kesalahan ‘fatal’.

Belum tentu kau butuh nasehat. Bagaimana kalau kau hanya butuh dimengerti?

Nah, mereka akan mengerti, sekalipun mereka tak benar-benar mengerti.

Setidaknya mereka berusaha.

Itulah sedikit perbedaan tentang ‘sahabat’ yang saya miliki dengan sahabat pada umumnya.

Mungkin hal yang mereka  lakukan itu baik.

Tapi sahabat gue tahu mana yang baik, lebih baik, dan mana yang terbaik.

Only a few of people will literaly understand 🙂

Salah Jurusan

image

[19-02-15]

Dear Diary

Kalian pernah nyasar? Terus salah masuk rumah orang? Dan (terpaksa) harus tinggal disana selama jangka waktu tertentu sementara lu ngga cocok sama lingkungan dan adat istiadatnya.

Kalian tahu apa yang namanya disorienting? Kalian tahu kenapa orang jadi malas?

Kalo kalian bisa jawab semua pertanyaan tadi, kurang lebih itu semua yang gue rasain, gue minta maaf sebelumnya udah ngecewain banyak orang.

Ada seorang guru yang bilang ‘Jangan pernah merasa salah jurusan. Jangan merasa terdampar’ oke!! Coba kalo gue jadi anak lu.

Ini nih ~ dia ngga ikut menjalani, jadi dia mana tahu? Terus dia bisa nyimpulin gitu itu dari mana???

Orang emang suka ngambil awalan sama akhiran doang, mana mau mereka mikirin proses.

Jujur gue lebih aktif di ekskul dan malah menghindari mapel yang berhubungan dengan jurusan yang gue ambil. Gue merasa paling bego kalo udah ngomongin tentang akuntansi, dan gue juga merasa paling ga minat diajak ngobrol tentang akuntansi.

Terkadang gue mikir, sakit banget rasanya kalo temen gue sibuk ngerjain tugas dan mendiskusikannya sementara gue duduk terdiam, memasang tampang bego karena ngga paham pelajaran apa barusan ini dan gue harus apa.

Batin gue berkata “Inget kampret elu tuh anak akuntansi!!!!”
Mental gue ketampar. Guepun bangun dan berpura2 enjoy diajak ber-akuntansi ria.

Gue ngga suka karena gue ngga bisa tapi gue ngga bisa dan ngga pengen bisa, sementara gue diharuskan bisa. Omg ini rumit.

Gue bener-bener ngga ada semangat, berangkat lesu pulang lesu, apalagi kalo pas hari itu ada banyak pelajaran akuntansinya. Gue malah cenderung enjoy sama pelajaran math sekalipun nilai math gue lebih jeblok dari akuntansi. Dan awalnya gue sangat mencintai komputer tapi setelah komputer ternodai oleh keakuntansian, rasanya gue pengen nerjunin diri dari atep gedung T.T selesai.

Ada yang bilang gue kurang motivasi, tapi mereka salah. Gue bukan kurang motivasi, tapi gue kurang minat, mau di motivasi sehebat apapun kalo ngga minat ya ngga minat. Dan tentang motivasi abal-abal itu malah sering bikin geli, gue remaja philosopical dan motivasi yang dikasih mereka itu ngga ada apa apanya dengan yang gue dapet sendiri. Mereka tidak cukup bijak untuk menjadi motivator.

Ada yang pernah bilang jadi akuntan itu gajinya gede.

Terus kenapa kalo gajinya gede?
Ahh ~ gue ngga minat sih sama duit, dan lagipula hidup gue ngga berorientasi ke harta.

Iya mungkin harta itu penting, tapi apa gue harus mengorbankan hidup gue dengan berpura2 enjoy seumur hidup hanya demi uang? Sorry ~

Cukup di sekolah ini aja gue berusaha menyukai hal yang tidak gue suka, cukup tiga tahun aja (kalo kuat

Good Night

– Ara Lee

Pendewasaan

Orang yg selalu membesar-besarkan masalah, orang yg bangga ketika ucapanya berhasil melukai hati org lain
itulah aku . . dulu
sekarang orang itu hanya trtawa mengingat semua kebodohan yang pernah ia perbuat, ia menyesal

Tujuh belas tahun usianya, ia hidup didalam belenggu realita kehidupan modern, uang dijadikan tolak ukur, semua orang berlomba-lomba mengumpulkan pundi-pundi uang, tak beda jauh dengan pelajar di sekolah, kini nilai lebih dihargai dari pada kejujuran, mencontek sudah menjadi hal yang wajar, dilakukan tanpa merasa berdosa, hukum yang menye(?) jadi semakin tak kasat mata, seakan tanpa sengaja mencetak calon-calon pencuri untuk generasi mendatang (koruptor misal), entah akan jadi apa mereka nanti.

Lupakan mencontek -_- aku sudah muak dengan mencontek, aku menulis hal ini bukan hanya bualan sok bijak dari seorang remaja tujuh belas tahun yang kurang kerjaan, aku menulis hal ini karena aku pernah menjadi bagian dari ironi, menjadi bagian dari si-pencuri.