Analogi Kehidupan

Untuk mereka yang kurang tahu

Ada seorang anak yang dilahirkan dari keluarga berpendidikan, agamis, dan digelimangi harta. Orangtua-nya juga sangat memperhatikan norma, hidup sebagai manusia ber-etika, anak itu juga tumbuh dengan baik, baik fisik maupun mental, ia rajin beribadah, ia rajin bersedekah, ia rajin mengikuti acara-acara kemanusiaan dan ia menjadi manusia yang cukup disegani. Satu kekurangannya, ia jarang mendapatkan cobaan dari Tuhan, maka dari itu dia tumbuh sedemikian indah bagaikan bunga segar di tanah yang subur.

Ada juga seorang anak yang sejak awal kehadirannya saja tidak diharapkan. Ia tak memiliki seorang ayah, ibunya banting tulang setengah mati menjadi sosok ibu sekaligus ayah, saat si anak minta pada ibunya untuk diajarkan mengaji dan sholat, si ibu menolak karena terlalu lelah bekerja, lingkungannya juga tak terlalu baik, sebagai anak kecil hal terbanyak yang ia lihat adalah kemunafikan, fitnah, kecemburuan dan dengki, itu yang dia serap sejauh ini. Ibunya terlalu lelah bahkan tak mengajarinya tata krama, ia harus belajar sendiri, segalanya yang mengenai etika ia pelajari sendiri, ia mengerti itu. Ia tumbuh menjadi remaja yang sangat peka, ibunya yang tak banyak bicara membuatnya menjadi sosok pembaca pikiran yang handal, sayangnya ia bermasalah dengan etika, ia bahkan sempat tak percaya Tuhan itu ada, ia tak percaya pada ideologi negaranya dan memilih menganut aliran liberal kalau dia punya pilihan, begitulah seterusnya. Anak itu bagaikan bunga segar di tengah padang pasir, sulit baginya untuk bertahan hidup, apalagi menjaga dirinya untuk tetap segar.

Anak itu tak tahu harus lahir dari rahim siapa dan dengan cara yang bagaimana… faktor sederhana ini yang justru menjadi akar dari segalanya, ini membuat hidup menjadi terlihat sangat tidak adil, bagaimana bisa meminta setangkai bunga untuk tetap bertahan di tengah padang pasir? Hanya agar mereka sama derajatnya dengan si bunga yang hidup di tanah subur.

Seseorang berkata

“Itukan pilihan mereka, mereka bisa menjadi jahat sekalipun mereka lahir dari keluarga beradab.”

 

Ada satu analogi lagi

Mereka berdua itu seperti sebuah bangunan

Yang satu punya pondasi kokoh dan yang satunya tidak

Yang satu mungkin saja ambruk sekalipun pondasinya sedalam dua meter, lalu bagaimana dengan yang satunya lagi? Seberapa sakitnya mereka selama ini? seberapa kuatnya mereka harus bertahan menahan dirinya yang tanpa pondasi itu? Seberapa besar resikonya untuk jatuh jika dibandingkan yang pertama?

Lagipula

Hanya orang-orang tolol yang berasal dari keluarga beradab tapi kelakuannya biadab. Hanya orang-orang tolol!

 

 

 

– Dari, si bunga yang hidup di tengah padang pasir –

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s