One Big Family?

Sekilas bayangan masa depan ketika kami bertemu nantinya, betapa dingin hubungan ini dibatasi sebuah tembok kecanggungan yang dulu dibangun oleh (sesungguhnya) kami berdua. Namun yang terlihat jelas seperti tersangka adalah aku. . hanya aku, karena aku yang termuda yang berarti harus rela menjadi kambing hitam manusia-manusia sialan yang merasa tua itu, tapi kalau memang mau dianggap tua mulai detik ini aku akan panggil mereka tua bangka! Sialan! Mau panggil aku anak kecil? Silahkan ~ Karena aku memang.

Dalam hal ini ada seribu satu sisi ketidakadilan hidup yang tidak bisa kujelaskan kenapa.

Entah setan apa yang memasuki kewarasanku waktu itu sampai aku begitu emosional, padahal satu banding seribu kemungkinan aku bisa marah atau yang tidak mungkin lagi aku lakukan seperti mengamuk dengan keluargaku sendiri.

Untuk alasan apapun dua hal inilah yang paling aku hindari, padahal jelas aku terlahir sebagai mahluk peka emosional sialan yang sulit menahan kemarahan jika itu bukan untuk keluarga, betapa aku menyayangi sebuah keluarga utuh, dan betapa aku menyesalinya, betapa aku menyesal menyayangi keluarga itu.

Masalah kami tidak jelas namun gamblang eksekusinya, tapi sumpah bukan aku yang memulai.

Lucu memang. . betapa menjijikkan sebuah keluarga besar yang berisi orang-orang dengki penjilat munafik pelit dan back stabber!
Bersyukur aku menjadi yang paling akhir mengenal keluarga besar ini, itupun kalau bukan Mama yang memutuskan untuk ‘bergabung’, sekarang aku jadi sadar kenapa Mama berkelana puluhan tahun dan tidak pulang sampai-sampai digosipkan mati oleh. . ehm. . adiknya sendiri.

Keputusanku bertindak emosional pada mereka tidak akan pernah aku sesali. Justru ini yang aku tunggu selama bertahun-tahun selama ini menahan gumpalan menyesakkan dalam dada.
Mereka harus berhenti berilusi bahwa aku sendiri  berarti tidak punya harga diri.
Point pertama memang benar,
mungkin aku sendiri tapi aku tidak takut mati.

image

sumber : whisper.sh

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s