Label Oh Label

“Sifat anak belum tentu mirip dengan orang tuanya.” berarti ‘buah juga bisa jatuh jauh dari pohonnya’. Itu tentang orang tua biologis kita lho! Apalagi orang lain.

Lantas bagaimana dengan pemberian label yang sama oleh masyarakat kepada generasi turun temurun?

Label menurut Lemert (dalam Sunarto, 2004) adalah
penyimpangan yang disebabkan
oleh pemberian cap dari
masyarakat kepada seseorang yang kemudian cenderung akan
melanjutkan penyimpangan tersebut.

Misalnya satu kelas itu sejak dulu (entah sejak kapan) adalah kelas bermasalah, akankah kelas penerusnya akan sama seperti demikian?
Mungkin. Tapi bisa menjadi sangat mungkin jika masyarakat memberi label buruk kepada penerus yang aslinya bisa menjadi baik tanpa label tersebut.

Contoh, seorang anak dituduh mencontek pada saat ulangan padahal dia tidak mencontek, lalu dikemudian hari ia berniat untuk mencontek jika ada ulangan lagi, disini mencontek lebih menguntungkan, toh melakukan dan tidak melakukan sama-sama akan dianggap bersalah.

Hal ini menurut saya sama dengan konteks label. Awalnya dia baik, dia jadi pemberontak karena keseringan menyandang ‘bad reputation’.

So. . Buat semuanya aja, tolong hindari memberi cap/label buruk kepada seseorang, apalagi dengan alasan ‘penyamaan’ dengan trah(?) terdahulu. Cukup beri label mereka manusia biasa jika label ‘baik’ belum pantas tersemat, dengan begitu mungkin mereka akan bertindak biasa seperti manusia pada umumnya. Paling tidak mereka akan menjaga label itu dan berusaha mengontrol diri agar labelnya tidak ‘terkotori’.

SEKIAN ~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s