Surabaya

Aku rindu keterikatan dan persaudaraan di sana, kriminalitas dimana-mana tapi asalkan mereka tahu kau orang Surabaya, mereka tak akan berani. Kuncinya satu ‘Jangan terlalu sopan’ kau bisa ditertawakan.

Kriminalitas :
Surabaya itu memang berbahaya bagi orang-orang baru (apalagi bagi orang yang tak tau arah) beda dengan yang sudah lama tinggal menetap, seorang petinggi agama berteman dengan preman sudah merupakan hal yang wajar, aku sendiri punya kenalan beberapa orang pemakai, beberapa orang preman, mantan napi yang seorang pembunuh. (kalau mama tak bilang, aku tak tahu).

Mereka sangat ramah, walau sudah berkali-kali keluar masuk bui mereka tidak pernah dikucilkan warganya.

Ikhlas :
Mereka tak pernah pamrih, kalau memberi ya memberi, ikhlas lahir batin, kalau tak ikhlas lebih baik tak usah sama sekali, mereka tak suka kalau ada salah satu tetangga yang kesusahan. Mereka adalah orang yang tulus.

Sopan santun :
Kasar memang, mereka menghina seenak hati, misuh-misuh itu sudah merupakan bumbu wajib dalam setiap kalimat, mereka misuh itu bukan dari hati, tapi cuma sebagai ‘penekanan’ seperti “Yok opo koen su?” atau “Goblok koen, janc*k koen” Dan hanya kepada teman sebaya.

Aku yang dulunya terbiasa dengan kata-kata itu sekarang agak bergidik ngeri.

Panas :
Surabaya itu kota metropolitan, panas, sumpek, dan berpolusi, kalau malam hari disini selimut lapis 3, kalau malam hari di Surabaya tak pakai baju-pun masih terasa panas.

Ramai, kalau siang mereka dirumah ‘ngeyup’, kalau malam baru pada keluar, titik sibuknya Surabaya itu jam 8 malam, dulu waktu masih kelas 3 SD jam 10 malam aku masih sanggup kelayapan dengan sepeda mini keliling desa tetangga.

Hewan :
Mereka penyayang kucing, ada yang tak suka tapi tidak sampai menyiksa, paling sekedar diusir. Kau pergilah kepasar tradisional Buabang di Banyu Urip Kidul dekat SD-ku dulu, tiap satu meter pasti ada ‘kucing’ dan mereka semua bersih, jinak, tak diusir, tak ditendang, mungkin ada tapi jarang terlihat orang mengacungkan pentung hanya karena ikan pindangnya dicuri kucing.

Gaya hidup :
Semiskin apapun keluarga itu tak ada hari tanpa makan ayam, mereka tak suka makan sayur.

Pergaulan :
Selama reputasi dan moral orang tuamu baik dan kau sendiri mau menjadi baik, tak ada yang berani mengajakmu berbuat macam-macam.

Agama :
Disana kebebasan memeluk agama sangat dihormati! Tak ada yang fanatik, muslim masuk gereja, Kristen masuk masjid itu sudah biasa. Orang Islam tak sholat, orang Islam religius, semua ada tanpa pernah mengganggu privasi dan hak masing-masing. Tak ada yang mengucilkanmu kalau kau tak sholat, sholat itu hanya buat ‘Orang yang mau’ yang tidak ya tak ada yang memaksa, entah di akhirat nanti akan seperti apa, itu urusan mereka.

Ras :
Mayoritas ya Jawa, tapi yang Cina juga buanyak, kokoh kokoh nongkrong di pos ronda itu sudah biasa, mereka berbaur dengan yang Jawa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s