Mimpi

image

Aku punya banyak mimpi, dan semua hasrataku itu di redupkan oleh mama.
Dulu . .
mama sangat ingin aku menjadi dokter, aku yang masih kecil hanya bisa tersenyum dan berucap “Aku akan menjadi dokter” mamapun bangga.

Kemudian saat usiaku menginjak 10 tahun, aku bilang pada beliau “Aku ingin jadi pengacara” Mama menatapku tajam, ia menentangku, ia bilang jadi pengacara itu tidak sehat, tak mesti benar atau salah yang penting tugasnya adalah membela “Bagaimana kalau klienmu itu adalah seorang pembunuh?”
Mendengar itu aku mengurungkan niatku untuk menjadi pengacara.

Yang kukejar bukanlah uang, aku tak suka uang, tapi aku suka barang-barang yang bisa kubeli dengan uang ‘-‘ *ini rumit.

Saat usiaku 13, minatku sangat besar pada lukis melukis, aku bilang pada mama aku ingin menjadi seniman, mama malah marah, sosoknya yang kalem berubah garang “Tak punya masa depan!!! kau tahu seniman tak bermodal itu sama dengan gelandangan!!”
Aku tahu mama bilang begitu karena dia sendiri pernah menjadi seniman, dia lulusan sekolah seni di Jogja, karena jiwa seniman yang ‘cinta kebebasan’ itu ia lantas merantau ke Jakarta dan sempat bekerja sebagai animator di salah satu TV swasta di Indonesia, tapi karena tidak betah dengan rutinitas kantor, ia keluar. Dan lihatlah dia sekarang! Tak punya masa depan, ijazah SMSR ‘katanya’ sudah ia bakar.

Saat usiaku lima belas, aku bilang aku ingin jadi penemu, aku lupa bagaimana reaksi mama, yang jelas dia bilang “Penemu-penemu itu terkenal setelah mereka mati.”
Aku juga sempat membaca di sebuah artikel, banyak ilmuwan tak terkenal yang mati terbunuh eksperimen mereka sendiri, hanya karena berusaha ingin menjadi seorang ‘penemu’.

Saat usiaku menginjak 16, “Mah, aku pengen jadi psikolog.” mendengar itu mama malah tertawa. “Mengurusi orang-orang stres?”
Aku tertegun, kemudian berpikir sejenak, lalu berucap “Tidak semuanya mengurusi yang stres stres mah ~”

Kini setiap kali aku bermimpi ingin menjadi ‘sesuatu’ aku tak pernah bilang mama -_-

sekarang mimpiku apa?
Kau tahu apa sekarang mimpiku?
Aku-ingin-menjadi-seorang-penulis

Apa yang mungkin beliau katakan kalau sampai tahu?

“Penulis itu miskin!”

Oh ayolah, ini bukan zaman renaisance yang menghargai sebuah karya masterpiece hanya dengan sekeping koin.
Ini abad ke-15 ma!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s